balaikota-edit

Undang – undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah diterapkan, undang – undang tersebut mengamanatkan diterapkan pelaksanaan Otonomi Daerah, ini pada hakekatnya adalah sebagai suatu upaya untuk meningkatkan peran daerah dalam memberikan pelayanan masyarakat, serta menjalankan roda pemerintahan di daerah masing – masing secara optimal. Kebijakan ini merupakan suatu usaha untuk mengurangi sentralisasi kekuasaan dan kewenangan yang selama ini terjadi. Dalam pelaksanaanya, penerapan otonomi daerah ini tidak luput dari ekses negatif. Ekses ini berupa efarid yang berlebihan akan menimbulkan gesekan – gesekan di masyarakat, apalagi dengan terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan yang mudah seseorang atau kelompok dapat berbuat apa saja atau merusak barang yang mungkin mempunyai nilai sejarah.

CITRA KOTA BOGOR DALAM ARSIP diharapkan dapat mengawali tumbuhnya gagasan kebangsaan melalui materi yang dilampirkan dapat membangun kesadaran anak bangsa, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita miliki ini, merupakan warisan perjuangan yang panjang dari para pendahulu kita, oleh karena itu kesadaran berbangsa dan bernegara dalam suatu wadah NKRI perlu ditingkatkan, sebagai suatu tanggung jawab yang perlu dipikul bersama.

Hal lain yang cukup mendasar dengan, penerapan otonomi daerah berkenaan dengan fungsi kearsipan, adalah bahwa kewenangan untuk mengelola arsip statis di daerah beralih dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) kepada Pemerintah Daerah. Sebagai realisasinya telah dibentuk Kantor Arsip Daerah Kota Bogor yang berdasarkan PERDA 13 Tahun 2005 menjadi Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Bogor, sehingga apa yang diharapkan oleh otonomi daerah itu, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah dapat menggali sendiri atau merawat arsip statis serta arsip – arsip yang mempunyai nilai sejarah.

Dengan disusunnya Citra Kota Bogor Dalam Arsip ini, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah, mendapatkan bimbingan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Hal ini akan memberikan manfaat, sehingga dapat diberikan informasi dari peristiwa masa lalu. Dan begitu pentingnya arsip beberapa generasi masa lalu dapat dilihat dari berbagai kegiatan, kejadian sejarah, sehingga dari perubahan atas perkembangan tersebut, dapat dilihat dengan jelas melalui informasi kearsipan yang baik, yang tadinya peristiwa gelap yang tidak bisa dipahami menjadi jelas dapat dimengerti.

Disisi lain Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan Pokok Kearsipan, telah mengamanatkan adanya keawajiban pemerintah baik pusat maupun daerah, untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan kearsipan dengan tujuan menyelamatkan arsip sebagai bahan bukti penyelenggaraan pemerintah, dan arsip sebagai bukti sejarah, sehingga daerah dapat mengembangkan upaya penyelamatan dan pelestarian arsip statis pada masa – masa berikutnya.

Kami sangat menyambut baik, ANRI Dan BAPUSIPDA Jabar berperan aktif untuk memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat pelaksanaan otonomi daerah melalui program “ CITRA DAERAH “ yaitu penyerahan hasil alih media dari khasanah

arsip statis yang tersimpan di ANRI kepada seluruh daerah di Indonesia.

Selain itu apa yang diprogramkan oleh ANRI dan BAPUSIPDA jabar khusus CITRA DAERAH yang mempunyai cakupan hanya Propinsi, memberikan dampak agar lebih spesifikasi lagi ditiap Kabupaten / Kota dapat meniru.

GAMBARAN SEJARAH DAN LINGKUNGAN SOSIAL

istana bogor

Kota Bogor secara geografis adalah merupakan pintu gerbang Jawa Barat, yang terletak dengan Ibu Kota Negara Republik Indonesia, dan dinamis dalam sejarah Indonesia dan perkembangannya. Bogor mempunyai sejarah yang panjang dalam setiap penggantian jaman berjalan paralel, dengan sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, seperti juga sejarah daerah – daerah lain yang berada di seantero Nusantara.

Masa Pra Sejarah Kota Bogor yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor, mempunyai daya tarik tersendiri, dengan banyaknya peninggalan budaya dan gedung bersejarah, bahkan Bogor disamping Kota Pariwisata, Kota Jasa, juga Kota Ilmu dan Pusat Penelitian Tanaman yang sudah langka tumbuh di daerah – daerah lain, yang umurnya rata – rata sudah mencapai ratusan tahun.

Kota Bogor terletak 1060 – 480 Bujur Timur dari 600– 360 Lintang Selatan dengan jarak + 2156 ha (2156 Km2) terdapat beberapa aliran sungai, yaitu Ciliwung, Cisadane, Cipakancilan, Cidepit dan Cibulak.

Kota Bogor merupakan kota pegunungan, dimana permukaan tanahnya bertebing – tebing dan berlembah, sehingga terdapat beberapa lembah yang kedalamannya sekitar 16 sampai 20 m dari permukaan tanah, dengan ketinggian dari permukaan air laut 200 m sampai 300 m.

Dikanan kiri jalan banyak ditanami pohon – pohon tua yang umurnya ratusan tahun. Sebagai tanaman penghijauan demi pelestarian keindahan kota dan sebagai lambang kesegaran udara Kota Bogor, tetapi seiring tambahnya waktu banyak, pohon yang mengalami kerapuhan dan tumbang.

Kota Bogor yang mempunyai penduduk 855.184 jiwa dengan luas tanah 118,5 Km2, yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi disebabkan banyaknya orang – orang dari luar Jawa, dan dari Jawa masuk ke Kota  Bogor, sehingga masyarakat Kota Bogor menjadi heterogen, namun daerah di luar perkotaan tetap dihuni oleh mayoritas Suku Sunda.

Awal pertumbuhan Kota Bogor dimulai sebagai suatu “ Kota Mesopota “ yaitu Kota yang tumbuh diantara 2 (dua) aliran sungai, yaitu Cisadane dan Ciliwung menjadi batas alam yang sekaligus merupakan jalan untuk hubungan keluar.

Daerah “ Mesopota “ ini menyempit di bagian Kota Bogor yang sekarang, khususnya didaerah Empang, Batutulis, Lawanggintung, Pasar Sukasari, sehingga merupakan bagian paling ideal dari segi pertahanan dan keamanan. Dibagian inilah tumbuh perkampungan yang permanen dengan bagian intinya daerah Batutulis dan Lawanggintung, kecuali dari arah tenggara daerah tersebut dan ketiga daerah lainnya terlindung oleh tebing dan lembah, sungai yang cukup terjal. Dengan adanya aliran sungai Cipakancilan di tengah – tengah terpenuhi pulalah kebutuhan hidup sehari – hari akan air.

Sejak likuidasi kekuasaan Pakuan Tahun 1578, Kota Bogor mengalami masa “ Tidur “ kedudukannya sebagai pusat pemerintahan hilang, dan status perkotaannya lenyap, karena dulu bekas Kota Pakuan hanya terdapat beberapa kelompok perumahan yang terpencar.

Masa “ Tidur “ ini berlangsung lebih dari 150 tahun, kebangkitannya baru terjadi karena perubahan situasi politik di pulau Jawa, yaitu dengan Badan Swasta VOC memiliki hak Octorat yang sangat luas, termasuk hak monopoli dagang sebelah timur Afrika, hak memelihara tentara untuk membela perdagangannya, dan hak menguasai daerah untuk pangkalan operasi dagang.

Sejak tahun 1619 VOC menguasai Pelabuhan Jayakarta, yang diberi nama “Batavia“, pada masa Gubernur Van Imhoff memiliki sebidang tanah ditempat Istana Bogor yang sekarang, sebagai tempat peristirahatan  dan persinggahan dalam perjalanan inspeksinya ke daerah Periangan yang waktu itu berpusat di Cianjur.

Tanah itu dipilih karena keadaanya sangat menarik, letaknya berdekatan dengan bekas “Leuwi Sipatahunan“ dan tentu sisa – sisa permulaan tempat rekreasi keluarga

Kerajaan Zaman Pajajaran masih membekas dan sempat disaksikan dan dinikmati oleh Van Imhoff.

Sesuai dengan mode Eropah Barat waktu itu, tempat peristirahatan tersebut diberi nama “Buitenzorg“  (Tanpa Kesibukan) sebagai terjemahan istilah “ Sans Souclie “ yang populer dinegerinya.

Secara menyeluruh Kota Bogor dikembangkan ke arah suatu “ Residentiluxe “ yang luas dan pertamanan. Kota Bogor termasuk Kota Pertama yang memperoleh ordonasi mengenai Kebersihan, Kesehatan, Keindahan dan Ketertiban bersama – sama Jatinegara dan Tanggerang dalam tahun 1981.

Pembangunan yang terpenting ditinjau dari segi penataan kota seluruhnya, adalah Pengaturan Tanah Penduduk dengan Surat Keputusan Gubernur Jendral Bund tanggal 15 Juli 1835, diatur tentang Hak Milik dan Hak Sewa Tanah Bangunan sepanjang Jalan Raya, dan Jalan Kota. Setiap tanah diperoleh untuk bangunan, tidak boleh dipecah lagi menjadi bagian yang lebih kecil, serta dalam jangka waktu dua tahun pemilik atau penyewa diharuskan sudah membangun rumahnya dari batu atau kayu, dengan atap genting atau sirap.

Pembangunan Kota Bogor kearah Kota yang bersih, sehat, tertib dan indah berlangsung pesat, karena fungsinya yang istimewa sebagai tempat kediaman resmi Gubernur Jendral.

Dalam Tahun 1942 Kota Bogor diberi tambahan daerah sebelah timur Ciliwung, sehingga tercapailah batas – batas kota seperti keadaan tahun 1995.

 

 

Perkembangan masyarakat etnis di Bogor

Sejak jaman polynesia di daerah Bogor telah berkembang kehidupan suatu masyarakat yang jumlahnya cukup besar. Masyarakat polynesia yang hidup di daerah tersebut mempunyai bentuk tubuh dan profil  yang mirip sekali dengan orang soka, yang masih dapat ditemukan di daerah Dumai dan Renubai Propinsi Riau.

Masyarakat polynesia pendatang tersebut lebih suka menetap di tepi sungai yang cukup besar, dan mereka masih menganut kepercayaan animisme. Adanya masyarakat etnis polynesia tersebut dibuktikan oleh adanya peninggalan Arca Dumas dan arca besar yang disebut “Purwakali“ dan arca kecil yang disebut “Kidang Pinanjung“.

Makanan yang mereka konsumsi berasal dari hutan berupa umbi – umbian dan buah – buahan, serta hasil buruan maupun ikan. Pada jaman “Neolitikum” mereka juga mulai bertani, khususnya tanaman pisang tepung (plantain) dan talas itulah sebabnya hingga sekarang Bogor masih terkenal akan talasnya.

Di jaman “Megalitikum” sudah mulai berkembang kerajinan dan teknologi logam. Hal ini kemungkinan besar berasal dari kebudayaan orang-orang pendatang baru yang tiba didaerah tersebut, dari batu tumpang dapat diungkapkan bahwa Bogor telah kedatangan orang-orang dari Korea, Jepang dan india, yang kemudian membaur dengan penduduk asli. Dari peninggalan “uang keping Cina” di daerah Pasir Angin Kecamatan Cibungbulang diperkirakan bahwa kelompok etnis Cina telah datang pula didaerah Bogor.

Masyarakat etnis asing tersebut diperkirakan sebagian besar tiba didaerah Bogor, melalui Laut Jawa yang terang dan tidak berbahaya, meskipun diantaranya ada yang tiba melalui Samudra Hindia.

Jadi berdasarkan penjelasan dari buku – buku tulisan Rochim Wiryomijaya (1985) dan Edi S Ekadjati (1984) bahwa Bogor terdiri dari beberapa etnis, seperti ;

  1. ETNIS INDIA

Etnis India ini masuk Ke Bogor diperkirakan ada kaitannya dengan usaha perdagangan, pengumpulan barang dagangan seperti Gading Gajah, Cula Badak dan Kulit Penyu.

 

  1. ETNIS SUNDA

Menurut Rochim W (1985) penduduk Etnis Sunda Bogor dan sunda Banten memiliki banyak kesamaan, baik ditinjau dari segi bahasa maupun adat istiadat serta kebudayaan. Mereka sama taat memeluk agama Islam, yang telah dipelajari secara mendalam dan turun temurun dari para  ustadz jaman dahulu, yaitu sejak masih bertahtanya Sunan Gunung Jati.

  1. ETNIS MELAYU JAKARTA

Kelompok Etnis Melayu Jakarta terutama menetap di Bogor sebelah Utara dan Barat, yaitu didaerah Kecamatan Kedung Halang, Semplak, Parung, Sawangan, Gunung Sindur, Depok, Cimanggis dan Cibinong, mungkin mereka berasal dari keturunan Mulawarman Raja Kutai yang datang ke Jawa.

  1. ETNIS JAWA

Sejak ultan Agung mengirimkan pasukan-pasukannya ke daerah Bogor pada tahun 1629 untuk mengusir VOC dari pulau jawa, banyak prajurit Mataram yang tiba di daerah ini dan diantaranya menetap didaerah Bogor hingga sekarang. Diantaranya didaerah Cikedung, Ciawi dan Ciomas. Di Ciomas terdapat kampung Jabaru yang konon berasal dari kata Jawa Baru. Pada tahun 1878  RT. Aria Suryadimenggala Haofd Jaksa Bogor dikisahkan menikah dengan Nyi R. Gandamerah yang berasal dari Jabaru tersebut, konon kabarnya orang-orang Jabaru tersebut berasal dari Tegal Jawa Tengah.

  1. ETNIS BELANDA

Kelompok etnis yang kini berada di Depok, dulu datang sebagai budak belian yang dibawa oleh seorang Tuan Tanah yang bernama CH. Chastckju. Mereka terdiri dari keluarga-keluarga Jonathas, Leanders, Bacas, Leon Samuel, Jacob Laurens, Tholeuse, Isakh, Sudir dan Sodakh. Depok adalah singkatan dari “ De Eerste Protektanls Onderdaan Kerk ” atau Gereja Kristen Rakyat Pertama.

STRUKTUR SOSIAL EKONOMI

Di Bogor pada puncak hirarki, status tradisional adalah Raja pada Jaman Kerajaan Pakuan Pajajaran atau Pakuan, dalam eselon birokrasi yang paling atas diduduki oleh Patih dibawahnya adalah “Tumenggung“ pada tingkatan yang lebih rendah dalam hirarki birokrasi terdapat “Demang” dan “Lurah” atau Kepala Desa.

Disamping ada kelas atasan yang kecil jumlahnya, yang terdiri atas kelompok birokrasi dan bangsawan, terdapat mayoritas rakyat yang sangat besar atau rakyat biasa yang mencakup petani, tukang, pedagang dan buruh. Golongan yang berpengaruh dari bagian penting dari kaum tani, adalah Pengurus Desa dan Pemuka Agama yang merupakan elit pedesaan.

Sejak abad ke 18 secara sosial ekonomi, pertumbuhan Kota Bogor merupakan suatu jalinan dengan Jakarta, dan merupakan daerah pedalamannya. Sedangkan secara sosial budaya masih menunjukan nafal Jawa Barat karena faktor etnik dan historis.

Kota Bogor disebut kota pendidikan dan pusat penelitian, maka sejak dulu memang Kota Bogor dikembangkan kearah :

-       Kota Peristirahatan yang bersih, sehat, sejuk, indah dan tertib.

-       Kota Pemukiman yang mampu memberikan kesegaran jasmani rokhani, kembali kepada penghuninya setelah bekerja keras sehari – hari.

-       Kota Persinggahan, dalam perjalanan antara Jakarta dan Pedalaman Jawa Barat.

-       Kota Pusat Kegiatan Perdagangan untuk daerah sekitarnya.

-       Kota Tempat Penelitian Flora dan Fauna daerah tropis.

Wilayah Kota Bogor yang sejak tahun 1995, setelah mendapat perluasan dari Kabupaten Bogor, terdiri  dari 6 Kecamatan dan 68 Kelurahan, pada umumnya penduduknya adalah petani, pedagang dan buruh. Tetapi disekitar industri kecil, juga dikembangkan seperti TAS TAJUR dan SEPATU dari Ciomas, selain itu dari hasil pertanian Kota Bogor juga mempunyai ciri khas seperti TALAS BOGOR, KACANG BOGOR dan DUREN RANCAMAYA.

Tetapi seiring dengan pertambahan penduduk dan banyaknya pendatang dari luar Kota Bogor  maka Kota Bogor banyak mengalami perubahan.

Kota Bogor yang mengalami perkembangan dari berbagai sektor, baik pembangunan pendidikan, perdagangan dan permukiman, sehingga banyaknya lahan– lahan pertanian dipergunakan untuk perumahan, akibatnya makin sempitnya area pertanian.

DINAMIKA WILAYAH KOTA BOGOR

Diwilayah Kota Bogor, banyak ditemukan situs dan benda budaya peninggalan jaman Kerajaan Pajajaran. Sampai sekarang yang masih tersisa seperti Prasasti Batu Tulis di Jalan Batutulis Kecamatan Bogor Selatan dan Mesjid Empang. Selain itu Prasasti Telapak Kaki Gajah peninggalan Purnawarman, prasasti yang sekarang tidak ada ditempat asalnya itu didapatkan di Kampung Pasir Muara  dan nama Sunda ini sebagai nama kerajaan tercatat dalam dua buah prasasti batu masing – masing yang ditemukan di kali atau tidak jauh dari lokasi prasasti Telapak Gajah.

Dalam  Prasasti  Telapak  Kaki  Gajah ada tulisan 4 (empat) baris yang berbunyi : “ Ini Sabdakalanda Rakryan Juru Pangga Mbati Kawi Haji Panyca Pasagi Marsan Desa Barpulihkun Haji Sunda “ Terjemahannya (menurut Bosch); ini tanda ucapan Rakryan Juru Pangambut dalam tahun (saka) Kawi Haji (8) Panca (5) Pasagi (4) Pemerintahan Negara dikembalikan kepada Raja Sunda, karena angka tahunnya bercorak Sangka yang mengikuti ketentuan “ Angkanam Namato Galih “ angka dibaca dari kanan , maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 saka atau 536 Masehi.

Hanya beberapa ratus meter dari tempat ditemukannya prasasti itu, ada pula dua buah prasasti lain peninggalan maharaja Purnawarman yang berhurup Palawa dan berbahasa sangsekerta. Dalam literatur sejarah kedua prasasti itu bisa disebut prasasti Ciaruteun dan prasasti Kebon Kopi (daerah tersebut bekas perkebunan kopi milik Jonathan Rig).

Prasasti Ciaruteun, semula terletak pada aliran (sungai) Ciaruteun kira – kira 100 meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Cisadane tahun 1981. Prasasti itu diangkat dan diletakkan dalam cungkup prasasti Ciaruteun ditulis dalam puisi 4 baris yang berbunyi :

Vikkrantasyavanipateh

Shrimatah Purnnavarmmanah

Tarumanagarendrasya

Vishnoriva padadvyam

Terjemahannya (menurut Vogel) Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini, kepunyaan Raja Dunia yang gagah berani, yang termasyur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Prasasti tersebut bergambar sepasang pada tala (jejak kaki), gambar telapak kaki itu yang diterangkan dalam inskripsinya, gambar jejak telapak kaki  yang menunjukan tanda kekuasaan yang berfungsi mirip “ tanda tangan “ seperti jaman sekarang, kehadiran prasasti Purnawarman di kampung tersebut, jelas menunjukan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya menurut Pustaka Rajyarajya  1 Bhumi Nusantara Parwa II Sarga 3 halaman 161 diantara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman (395 – 434 M) terdapat Rajamandala ( raja daerah ). Pasir Muhara lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk sebuah bukit rendah bermukaan datar dan diapit tiga batang sungai Cisadane, Cianten, Ciaruteun. Sampai abad 19 tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara, dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea, sekarang termasuk wilayah Kecamatan Kedung Halang.

Peninggalan bersejarah lainnya adalah “ TUGU KUJANG “

Tugu Bogor sering juga disebut Tugu Kujang, Tugu Kujang ini didirikan untuk menghormati peresmian Ibu Kota Pakuan, dari Kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi, hal ini ditunjukan dari penggunaan simbol senjata Kujang, senjata ini merupakan senjata rakyat dan panji kebesaran berlekuk tujuh dengan 3 lubang dibagian pinggir dan satu lubang dibagian tengah.

Monumen ini didirikan pada simpang tiga jalan raya Pajajaran – Otto Iskandardinata  - Baranangsiang dengan luas tanah 26 x 23 m dengan tinggi 17 m dan bagian senjata kujangnya 6 m terbuat dari stainles steil berlapiskan perunggu dan kuningan. Disetiap menara beton yang berdimensi tiga ini, dipasang perisai lambang Kota Bogor yang terdiri dari gambar Burung Garuda, Istana Kepresidenan, Gunung Salak dan Senjata Kujang, disamping tugu ini dibuat juga plaza berukuran 48 x 19 m yang berisikan duplikat prasasti Lingga dan Batutulis Kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Maharaja Ratu Adil.

PRASASTI BATUTULIS

Seperti disebut diatas sebagai peninggalan budaya Kerajaan Pajajaran adalah Prasasti Batutulis yang terletak di daerah Batutulis disebelah tenggara Kota Bogor termasuk Kecamatan Bogor Selatan, di Prasasti Batutulis terdapat tulisan Bahasa Sunda Kuno. Disamping itu ada batu tapak kaki, dekat dengan tempat Batutulis ini ada dua buah area kasar dari jaman Polynesia yang besar dinamakan Purwakali, dan yang kecil dinamakan Kidang Pinanjung.

Disekitar Batutulis telah pula ditemukan bekas – bekas tembok Istana Pajajaran, antara lain di Bantar Peuteuy daerah Lawanggintung, yaitu ditepi sungai Cipakancilan ditemukan beberapa batu dan fragmen dari Mahadewa.

KEBUN RAYA BOGOR

Peninggalan yang tidak kalah pentingnya dan juga sebagai pusat penelitian, riset dan rekreasi adalah Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Bogor merupakan bagian dari monument Batutulis yang didirikan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dari Kerajaan Pajajaran tahun 1474 – 1513.

Kebun Raya pada saat itu dinamakan Samida (hutan buatan atau taman buatan), yang ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian alam lingkungan dan tempat memelihara benih – benih kayu yang langka. Disamping samida itu yang kemudian dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor, pada saat itu disebut samida, yang serupa dibatas Cianjur – Bogor (hutan ciungwanara) baik dari segi keaslian jenis tumbuhan yang di tanam maupun tata letak dari tanaman. Jadi dengan demikian maka Raffles dan Van Den Bos hanya merupakan tokoh pemugar dan penambah koleksi tanaman bagi kebun raya yang telah didirikan sejak abad ke 14 oleh dinasti Kerajaan Pajajaran.

Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli Biologi yaitu Reindwardt yang menulis kepada Komisaris Jendral GSGP Van Der Cupellen, yang isinya keinginannya untuk meminta sebidang tanah, yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna sebagai tempat pendidikan guru. Koleksi juga dikembangkan menjadi kebun yang lain, kebun Botani yang didirikan tanggal 18 Mei 1817 oleh Prof. Dr. C.G.I Reindwardt yang kemudian dinamakan “ S Lands Plantentuinte Buitenjorg “ tersebut lebih terkenal dengan nama Kebun Raya Bogor.

Kota Bogor dari beberapa prasasti seperti tersebut diatas banyak lagi peninggalan berupa gedung – gedung bersejarah lainnya seperti Istana Bogor, Gedung Balaikota, Mesjid, Gereja dan lain – lain.

Melihat kondisi yang sangat strategis yang merupakan pintu gerbang Ibu Kota Negara Indonesia, maka andalan Kebun Raya merupakan tujuan utama para wisatawan domestik maupun Mancanegara, karena Kebun Raya selain tempat rekreasi juga digunakan tempat penelitian dan pendidikan.

Keikutsertaan Kebun Raya Bogor dalam dunia pendidikan sebagai lembaga yang berkecimpung dalam pengumpulan, pemeliharaan, pelestarian serta penelitian tumbuhan, karena Kebun Raya Bogor yang memiliki koleksi tanaman beratus – ratus bahkan beribu - ribu jenis, selain sebagai Museum hidup juga merupakan laboratorium lapangan, sudah tentu memiliki edukatif yang sangat besar nilainya.

MATERI ARSIP YANG DITAMPILKAN

Dalam Citra Kota Bogor ini pada bagian pertama ditampilkan tema  “ Pemerintahan dan Penduduk ”. dilihat dari cakupan periodenya memang melingkupi waktu yang panjang yakni jaman masa penjajahan Belanda hingga tahun setelah Indonesia merdeka. Hal ini dapat dimaklumi karena sejarah Kota Bogor memang cukup panjang seperti daerah daerah lainnya, dan selalu terkait dengan dinamika masyarakat di daerah itu sendiri. Arsip lama umumnya diambil dari keadaan Kota Bogor Tempo Duu dan Arsip Cagar Budaya.

Materi Arsip yang disajikan dalam penyusunan Citra Kota Bogor Dalam Arsip, penyusun belum bisa menampilkan arsip tertulis, karena keterbatasan waktu tetapi hanya bisa melampirkan arsip-arsip foto masa pejabat pemerintahan dan yang tidak kalah pentingnya Istana Bogor sebagai tempat diselenggarakannya APEC.

Bagian selanjutnya mengetengahkan masalah Bangunan seperti kita ketahui bahwa di Kota Bogor banyak situs bersejarah seperti, Prasati Batutulis, Tapak Kaki Raja Purnawarman dan bagunan – bangunan bersejarah lainnya.

Selain penampilan gedung - gedung bersejarah kita tampilkan juga foto - foto Walikota sejak tahun 1905 sampai sekarang.

Sedang status Kota Bogor dan Walikotamadya (Burgermester):

  1. ;           Mr. Backhuis
  2. ;           Mr. Van Immhoff
  3. ;           -
  4. ;           Ir.Schenk De Jong
  5. ;           A. Bagchuis
  6. ;           I.M. Wasselink
  7. ;           M.F. Tydemann
  8. ;           Middelhoop
  9. ;           A.H. De Joge
  10. ;           N. Beets
  11. ;           Mr. Rambonet
  12. ;           F. Hildebrand
  13. ;           Mr.Dr. Soebroto
  14. ;           R. Odang Prawiradirdja
  15. ;           M. Wisaksono Wirjodihardjo
  16. ;           Ir. JJ. Penoch
  17. ;           R. Djukardi
  18. ;           R.S.A. Kartadjumena
  19. ;           Pramono Noto Sudiro
  20. ;           R. Abdul Rachman
  21. ;           Letkol Achmad Admawidjaja
  22. ;           Kolonel Achmad Syam
  23. ;           H. Achmad Sobana, SH
  24. ;           Ir. Muhammad
  25. ;           Drs. H. Suratman
  26. ;           Drs. Eddy Gunardi
  27. ;           H. Iswara Natanegara, SH
  28. ;           Drs. H. Diani Budiarto
  29. :           Dr. Bima Arya (2014 - s/d Sekarang)